Tag Archives: Bahasa Indonesia

Kemarin Itu Sudah Lewat

Tulisan ini awalnya dari ingat-ingat tentang waktu di meeting sama salah satu partner kerja, terus salah mikir kalau brand pantai nanas itu sama dengan coconut island. Entah kenapa bisa kepikiran gitu ya. Lucu, tapi bikin mikir…

Kadang aneh yah pikiran manusia, bisa mengkait-kaitkan yang sebenarnya ga berkaitan. Terus jadi masalah deh kalau kita bersikeras kalau itu memang ada kaitannya dan ga sadar-sadar. Terus jadi berdebat sama siapapun itu yang ga kepikiran kenapa kita bisa berpikir ke situ. Padahal sebenarnya ada atau nggak ada kaitannya itu sepenting apa sih? Kadang masalah yang bikin kita berantem itu sebenarnya kayak si pantai nanas dan coconut island itu ga sih? Masalah yang kita ada-adain di pikiran kita. Berantem yang mengada-ada.

Tapi ya itulah manusia ya, kadang lebih mentingin siapa yang benar dan salah daripada… yang lebih penting. Apa sih contohnya yang lebih penting itu? Yah, misalnya buat ketawa bareng karena kesalahpahaman itu. Ya ampun, coba ingat-ingat deh berapa banyak sih masalah yang dulu heboh banget pas kita alamin, eh sekarang kalau diingat-ingat lagi ternyata konyol banget karena ga jelas. Atau ga inget lagi sebenarnya kenapa.

Dari mikirin itu. Jadi kepikiran lagi kalau seminggu yang lalu sempat ada problem sama orang terdekat. Ga jelas masalahnya kalau dipikir-pikir lagi sekarang. Untungnya bisa kembali baikan dan saling coba ngertiin setelah itu lewat. Kalau nggak?

Nah, pernah kepikiran ga sih kalau salah satu kebutuhan dasar kita dalam berhubungan itu adalah “dimengerti”. Terus, sering banget kita marah karena merasa ga dingertiin. Merasa kalau ga dingertiin itu artinya ga disayang. Padahal yang nggak ngerti itu bukan org lain, tapi kita yang ga bisa ngertiin diri sendiri. Merasa orang lain sengaja nyakitin kita atau apalah, tapi emangnya gitu ya? Atau cuma dikait-kaitin aja?

Pertanyaannya lagi, rasa sebelnya itu buat apa sih? Buat nunjukkin kalo kita terluka? Kenapa mau nunjukkin kalo kita terluka? Supaya bisa diobatin, kan? Tapi minta diobatinnya dengan ngelukain orang itu lagi? Lalu yang dilukain mau minta diobatin juga akhirnya? Nah loh, kalau gitu sekarang yang punya obatnya siapa? Orang pertama, orang kedua, dua-duanya? Siapa yang ga ngertiin siapa kalau begini jadinya? Bolak balik terus aja sampe bumi jadi datar kalo ga ada yang mau stop.

Abis itu sok-sok-an deh buat ingat siapa yang mulai permasalahannya. Padahal ingatan manusia itu aneh pake banget. Suka inget hal yang buruk di saat yang baik. Lupa hal baik di saat yang buruk terjadi. Sedih saat kebahagiaan jelas-jelas minta diambil. Atau senang lama-lama mempersulit diri sendiri buat bahagia lagi. Ga mau lupain yang bikin sedih, ga mau ingat yang bikin hepi. Ga ingat kalau kita itu cuma manusia, begitu juga si dia. Lupa kalau sama-sama ga sempurna, makanya harus saling jaga.

Makanya hubungan jadi susah, percintaan, pertemanan, pekerjaan, keluarga, dan sama diri sendiri. Kita suka pertahanin ego, “Ini gua. Lu harus ngerti. Lu harus terima.” Hidup itu singkat, tapi kita rela habisin waktu buat  nunjukkin kalau kita benar, orang lain salah. Daripada buat sadar kalau, “ini kita. Bukan lu atau gua aja.”

Kenapa ya manusia suka sok pake banget. Sok ngerti. Sok bener. Sok paling tahu. Padahal ujung-ujungnya kita ga bakal ngerti semuanya kok. Diri sendiri, orang lain, dunia yang aneh ini. Tapi ga harus ngerti kok buat bisa ketawa bareng. Karena yah balik-balik lagi, kenapa ga ketawa bareng aja sih? Karena ujung-ujungnya, semua yang ada di kemarin itu sudah lewat, pilih-pilih lah yang perlu diingat dan dilupain.

Jadi, udah nentuin siapa yang mau stop duluan sebelum bumi jadi datar?

*Content ini sifatnya sok tahu jadi jangan marah kalau tidak pas
*Tidak merujuk kepada pihak siapapun saat ini, tetapi ke diri sendiri saja
*Hanya ingin berbagi pemikiran siapa tahu berguna

Advertisements
Tagged , , , , , , ,

The Bridge Of Lost Empathy

Anonim sudah sangat paham tentang alur di jalan itu, lampu-lampu palsu yang menyilaukan hati nurani, dua jalur yang diciptakan untuk saling bermusuhan, sebuah lorong  berbesi-besi yang menghubungkan keduanya, langit yang berombak, dan udara kotor yang padat oleh debu, peluh, dan ketidakjujuran.

Sang anonim hanya perlu menutup mata, dan semuanya jelas di dalam benaknya.

Hanya perlu sekitar 20 langkah, kemudian melewati sebuah belokan ke arah kanan, dia akan bertemu sebuah jalan lurus yang menyenangkan. Sedikit lebih jujur daripada arus yang lainnya. Di sebelah kirinya, bangunan raksasa yang penuh kemenangan berdiri megah, melupakan semua orang yang runtuh saat dirinya dibangun. Tidak lama, sebelum jarum jam berputar satu kali, dia akan bertemu dengan jembatan itu, dia menamainya—–Jembatan Tanpa Empati.

Jembatan itu dililit dengan paradoks dan anti-simpati, tanjakan rendah yang disediakannya akan membawa anonim pada sebuah tahap yang dia sadar hanya akan dilaluinya untuk sesaat. Di sana juga, sebelum dia benar-benar mulai mendaki ke atas, anonim seringkali akan menemukan pemandangan 2 orang balita yang bermain dengan bebatuan di samping tangga, di dekat mereka ada seorang wanita paruh baya yang terlihat lelah dan tak berdaya-yang sepertinya adalah ibu mereka-memandang sayu ke arah jalanan, lalu ke arah si anonim, sinar matanya meminta sesuatu. Tapi sang anonim sudah terbiasa mengacuhkannya.

Beberapa langkah selanjutnya membawa sang anonim ke lapisan yang lebih tinggi, dia dapat melihat bangunan pengkhianat di jalan yang menyenangkan tadi, lebih jelas, lebih membuatnya mencibir benci.

Dia juga dapat melihat lampu-lampu yang kehilangan arah, mereka menyala, terang, tapi tidak tahu kemana mereka harus membawa cahayanya.

Kemudian setelah beberapa langkah dan hembusan napas terengah-engah, di hari yang senjanya sangat hitam itu, dia bertemu dengan sebuah tas usang kecil yang terlantar di pojok jurang yang berkarat. Tas itu pasti milik seseorang yang belum genap berumur 10 tahun, pikirnya, dan sedetik kemudian, dia mengetahui kalau dugaannya tepat. Dia menemukan seorang anak laki-laki tertidur di sisi jembatan, jaket kotor-yang beradu kumal dengan warna kulitnya-menutupi kepalanya, dia pasti tidak ingin mendengar bisingnya suara di luar dirinya.

Strategi yang bagus, pikir anonim, jangan mendengarkan dunia di luar, itu bisa membunuh diri sendiri, begitu kan?

Selanjutnya, dia bertemu dengan seorang ibu yang wajahnya pucat seperti baru saja hidup kembali setelah mati membeku, tangannya mengulur panjang-panjang, melewati tubuh bayinya yang teronggok di pangkuannya. Sang anonim mengacuhkannya. Dia melakukannya tanpa pikir panjang, responnya itu juga diberikannya pada 3 orang berikutnya yang ditemuinya di jembatan itu. Semuanya membiarkan tangannya terulur panjang-panjang. Semuanya mengiba dengan pandangan yang sama, jatuh, dan benar-benar di bawah.

Tapi anonim tidak percaya, bisa saja mereka berpura-pura. Penipu ulung, aktor dan aktris berbakat yang penuh dusta. Hiburan yang memalukan untuk ditonton.

Kadang dia berpikir, apa dia bisa berpendapat seperti itu karena sudah bertemu dengan mereka setiap hari? Atau karena jembatan itu? Atau karena semua bisikan yang didapatnya dari orang-orang, media, dan udara padat di jalanan itu? Atau dia sudah dibutakan lampu-lampu jalanan licik yang penuh tipu daya?

Atau dia adalah seorang yang jahat?

Pertanyaannya yang terakhir itu selalu membuatnya kehilangan energi, membuatnya menjadi lebih lelah daripada bekerja 8 jam penuh selama satu hari. Beruntungnya, sambil memikirkan hal itu, dia telah berhasil melewati jembatan itu sekali lagi, sehari lagi.

Dan sambil melanjutkan perjalanannya, dia berharap dalam hati kalau saat dia melewati jembatan itu lagi di keesokan harinya, sesuatu akan berubah. Sesuatu dari jembatan itu—–atau dari dirinya sendiri.

Tagged , , , , , , , , , ,

Si Gadis Kecil & Bintang Jatuh

Sebuah bangku berpunggung menjadi pijakannya, piyama besar berwarna indigo yang menjaganya dari masuk angin bergerak halus setiap kali si gadis kecil menjinjitkan kakinya. Dia pikir dia harus cukup tinggi, atau setidaknya lebih tinggi dari dirinya yang asli-tanpa bangku, tanpa berjinjit-untuk mencapai angkasa.

Sesekali dia menggapaikan tangannya tegak-tegak ke arah atas, berharap ada bintang yang akan tersaring ke dalam kepalan tangannya yang mungil. Matanya bersinar, terpukau oleh lampu-lampu melayang yang menempel di kanvas hitam berukuran tak terhingga di atas sana. Bulan begitu bulat. Langit begitu menawan. Dan sebuah bintang jatuh pun melengkapi malam itu.

“Mama! Cepat ke sini, lihat ada bintang jatuh!” pekik si gadis kecil sambil mengayuhkan tangannya seolah-olah itu bisa mempercepat kehadiran ibunya.

“Oh ya?” Ibu si gadis kecil yang tadinya sedang sibuk merapikan baju bergegas menghampiri anaknya yang ada di teras rumah. “Mana?” tanyanya saat sampai ke sisi si gadis kecil, mengitarkan mata ke segala arah tapi tidak melihat bintang jatuh yang disebutkan anaknya.

“Sudah hilang,” kata si gadis kecil sedikit kecewa karena ibunya datang terlambat.

“Wah, sayang sekali, padahal kalau ada tadi mama mau membuat permohonan.”

“Permohonan? Kenapa?”

“Karena, katanya si bintang jatuh akan mengabulkan permohonan itu,” kata Ibu si gadis kecil sambil membetulkan poni anaknya lalu menoel hidungnya sampai dia terkekeh geli.

“Benarkah itu, Ma?”

Ibunya mengangguk sambil tersenyum.

“Mama, lihat! Ada bintang jatuh lagi!” si gadis kecil memekik lagi sambil menunjuk ke sebuah cahaya terang yang melesat cepat ke arah Barat Laut.

“Wah, benar!” kata sang ibu saat melihat sinar yang sama. “Ayo cepat kita pejamkan mata dan buat permohonan, sayang,” sambung Ibu sambil melakukan perintahnya sendiri.

Beberapa detik berlalu. Ibu dan si gadis kecil hanyut dalam pejam itu, masing-masing merapalkan permohonan mereka di dalam hati dengan penuh kesungguhan. Setelah selesai, mereka membuka mata cepat-cepat. Sang bintang jatuh sudah hilang.

“Apa permohonanmu, sayang?” tanya ibu sambil memeluk pinggang si gadis kecil.

“Ra-ha-si-a.” Si gadis kecil tersenyum kekanakan memamerkan giginya yang ompong di bagian kanan atas.

Ibu melirik dengan tatapan menyudut, dia tahu benar caranya mengikuti permainan si gadis kecil. Tangan yang dipakainya untuk memeluk pinggang anaknya pun mulai beraksi, jarinya menari-nari menggelitik si gadis kecil. “Ayo, mau main rahasia-rahasia-an sama mama ya?”

“hihihi …” Si gadis kecil kegelian dengan jurus gelitikan ibu. Tapi di sisi lain sebenarnya dia menyukainya.

“Ayo, beritahu mama. Apa permohonanmu?” Ibu mulai menusuk-nusuk pelan perut si gadis kecil. Membuat si gadis kecil terpingkal-pingkal seperti kelinci yang kekenyangan oleh wortel segar.

“Iya, iya, aku beritahu.” Si gadis kecil menahan ‘serangan’ ibu dengan tangan mungilnya. Setelah berhasil mengatasi kegelian dan pingkalnya sendiri, dia berujar sambil menatap ibunya dengan mata nanar, “Aku berharap si bintang jatuh baik-baik saja, Ma.”

Ibu menekuk lehernya, tidak berhasil memahami perkataan anaknya. “Hah? Apa maksudmu, sayang?”

“Iya, mama. Si bintang sudah jatuh dari langit setinggi itu, lalu harus berpisah dari teman-temannya, kasihan sekali kan? Semoga dia baik-baik saja.”

Ibu terdiam. Masih belum sepenuhnya berhasil mencerna apa yang disampaikan anaknya. Matanya menatap ke arah jatuhnya bintang yang tadi dilihatnya. Dalam hatinya kata-kata si gadis kecil bergaung-gaung. Si bintang jatuh dari langit setinggi itu, lalu harus berpisah dari teman-temannya, kasihan sekali kan?

“Mama,” panggil si gadis kecil membangunkan ibu dari lamunannya.

“Iya, sayang?”

“Apa tidak ada yang peduli pada si bintang yang sudah jatuh itu?”

Ibu tidak mampu memberikan jawaban untuk anaknya. Karena kalau dia bilang ‘tidak’, seperti yang memang dilakukannya, bukankah itu akan terdengar jahat? Tapi kalau dia bilang ‘ada’, padahal dia tidak tahu siapa yang peduli (selain anaknya), bukankah itu akan menjadi sebuah kebohongan? Jadi dia hanya bisa tersenyum.

“Sudah malam, sayang, tidur yuk,” ajak ibu sambil tersenyum hambar, berusaha mengalihkan pembicaraan itu.

“Tunggu, Ma!” hardik si gadis kecil tidak terjebak siasat ibunya. “Apa permohonan mama?”

Ibu tertegun sejenak. Merasa sedikit sesak karena tahu bila permohonan yang dibuatnya diketahui si gadis kecil, anaknya pasti akan sangat kecewa padanya. Bagaimana bisa dia memberitahu anaknya kalau dia baru saja memohon supaya lebih banyak bintang yang jatuh sehingga dia bisa membuat permohonan yang lebih banyak lagi. Bukankah itu akan terdengar sangat ‘egois’ dan ‘tidak berperasaan’? Tentu saja bagi anaknya itu akan tampak seperti tidak peduli betapa banyak korban yang jatuh asalkan impiannya bisa terwujud, dan itu akan terdengar sangat—–kejam, kan?

Jadi dia mengecup pipi anaknya itu dan membisikkan suatu kalimat di telinganya. Kata-kata itu kemudian membuat si gadis kecil tersenyum puas dan melompat turun dari bangku yang dipijaknya. Lalu mereka berdua masuk ke dalam rumah sambil bergandengan tangan.

Tanpa mereka sadari, sebuah bintang jatuh lagi dari langit.

Kali ini warnanya indigo.

Tagged , , , , ,

The Pinky Swear Story

Entah itu hari apa. Entah jam berapa saat itu.

Hanya saja langit sudah tidak begitu terang lagi.

Hari sudah hampir gelap. Begini kah cara menjelaskan cuaca…???

Apakah ini sore? Senja? Atau sekedar mendung hampir hujan…?

Ada seseorang di sana. Duduk sendirian dengan rambut panjangnya yang tergerai acuh. Sesekali dia menarik poninya ke belakang, menunjukkan parasnya yang galau. Seorang wanita separuh baya. Aku tidak tahu siapa dia. Dia tidak tahu siapa aku.

Hanya Tuhan yang tahu kenapa kita bisa bertemu saat ini.

Tuhan, atau takdir…???

Taman itu sepi sekali. Atmosfir yang ada membuat semua hal indah di tempat itu terlihat agak menyeramkan. Rerumputan yang hijau tampak semu warnanya. Siapa dia? Wanita dengan rambut panjang itu…?

Lalu tidak lama kemudian dia tersadar akan kehadiran ku di sana. Sedikit terkejut. Sedikit malu. Lalu dia mengusap matanya. Aku melihat ada yang membuat matanya basah. Ada apa? ada apa wahai gadis berambut panjang???

Aku tersenyum. Reaksi spontan. Manusiawi kah? Entah lah, yang penting dia balas tersenyum. Ya,itu lah yang terjadi, kita berdua di bawah langit yang labil tersenyum seperti orang bodoh. Pertanyaan berikutnya, “Siapa namanya? Siapa namaku?”

Sekedar memperkenalkan. Panggil saja aku si Telunjuk. Dan gadis berambut panjang itu? Mari kita namai dia si Kelingking.

Jadi, begini lah bagaimana Telunjuk dan Kelingking bertemu. Di sebuah taman. Di hari yang agak gelap. Tidak ada bunyi biola. Tidak ada yang romantis sama sekali. Lagipula untuk apa? Umurku baru 9 tahun. Dan si Kelingking ini mungkin sudah 30 tahun.

Aku membawa bola basket ku yang kotor lalu berjalan ke arahnya. Duduk di ayunan yang berderit aneh begitu kududuki. Kriiiieeett…. kriiieeet… ah, ini menyenangkan… aku pun mulai memainkan ayunan itu, sedikit melupakan si Kelingking.

Si Kelingking kembali tersenyum padaku. Rambutnya tersapu angin. Dengan sigap dia merapikan rambutnya dengan sisiran segenggam tangannya. Parasnya kembali terlihat jelas. Sedih. Aku tahu ekspresi itu, ekspresi yang sama seperti wajah mama saat dia tahu papa dipecat dari pekerjaannya.

“Tante kenapa?” aku pun usil bertanya.

“…” si Kelingking hanya tersenyum. Tidak ada jawaban. Menyebalkan. setidaknya beri aku sedikit petunjuk.

“Tante habis nangis ya?”

“…” dia hanya tersenyum. Lagi.

“Tante ngapain di sini sendiri?”

“… entah lah.” kali ini dia tidak tersenyum. “kamu sendiri…?”

“…” aku diam. Tersenyum. Balas dendam. Sangat kekanakan ya.

“Tante lagi bingung nih…” akhirnya si Kelingking berujar, “Tante ada satu cerita, kamu mau dengar?”

Aku mengangguk. Menapakkan kakiku ke pasir di bawah ayunan. Memeluk bola basketku dan meletakkan daguku di sana. Mataku membulat ingin membaca kisah yang akan disampaikan si Kelingking.

“Dulu, ada seorang gadis yang sangat tepat janji. Bila dia sudah berjanji, pasti akan dia tepati. Begitu terus, sampai suatu waktu dia bertemu dengan masalah yang membuatnya bingung. Masalah dengan janji.”

“Apa itu…?” aku mengejar tidak sabaran.

“Saat dia menikah, dia berjanji pada suami dan semua saksi pernikahannya, kalau tidak akan ada rahasia dan kebohongan dalam pernikahan mereka. Dia berjanji. Kelingking bertemu dengan kelingking. Pinky swear.” Si Kelingking tersenyum miris saat mengatakan hal itu. Emosi yang tertahan nampak dari raut wajahnya.

“Lalu, apa yang terjadi? Dia ingkar janji…?”

“Tidak… dia selalu menepati janjinya, ingat? Dia tidak pernah ingkar janji. Hanya saja, setelah beberapa bulan menikah, seseorang datang menemuinya. Seorang sahabat lama. Seorang pria. Mereka memutuskan untuk bertemu dan berbagi cerita hidup. Larut dalam canda dan keasikan, dalam pertemuan itu, sahabat gadis itu memberitahu sebuah rahasia kepadanya. Sebuah rahasia yang tidak boleh diberitahukan kepada siapa pun. Dan gadis itu pun berjanji… seperti biasanya… pinky swear. Dan dia akan menepatinya.”

“Apa rahasia yang disampaikan pria itu, tante?” tanyaku polos. Makin penasaran.

“Hahaha. Rahasia…”

“…” aku memasang muka sebal. Dia menjulurkan lidah kecil sembari meledek lalu melanjutkan ceritanya.

“Sesampainya di rumah, baru lah masalah itu muncul. Suami sang gadis ingin tahu apa yang dibicarakan sang gadis dan sahabatnya itu. Tapi sang gadis tidak bisa mengatakannya, dia sudah berjanji pada sahabatnya itu. Di sisi lain, suaminya berkeras ingin tahu dan menuduh kalau dia sudah melanggar janji pernikahannya untuk tidak merahasiakan hal apa pun satu sama lain… Mereka bertengkar hebat. Tidak ada yang mau mengalah. Akhirnya sang gadis kabur dari rumah untuk mencari solusi untuk kedua janji yang saling menentang ini…”

“Ah,,, aku tahu siapa gadis itu…!” aku berseru penuh semangat. Itu pasti si Kelingking.

“Haha… jadi, menurut kamu, apa yang harus dilakukan gadis itu sekarang?”

“Kenapa tidak menceritakan pada suami saja apa yang dibicarakan itu, sehingga tidak perlu bertengkar…?”

“Tidak bisa seperti itu, kan dia sudah berjanji sama sahabatnya.”

“Tapi kalau tidak cerita nanti suaminya marah terus kan…”

“Benar, karena mereka sudah janji kalau tidak akan rahasia satu sama lain.” Si Kelingking menghela napas panjang. Kembali berpikir. Mencari solusi untuk masalah yang sama. Tapi tidak ada jawabannya. Dia tidak tahu dia harus bagaimana.

Aku turun dari ayunanku. Sengaja menginjak pasir di bawah ayunan itu keras-keras karena rasanya menyenangkan. Sambil membawa bola basketku di tangan, aku berjalan mendekat ke arah si Kelingking.

“Tante…” aku memanggilnya. Membuatnya tersadar kalau aku sekarang ada di depannya.

“Iya?” dia melihat ke wajahku dalam-dalam.

“Apa menepati janji itu penting?” tanyaku polos. Aku masih tidak begitu mengerti dengan masalah ini.

“Tentu saja…” dia tersenyum. Sok dewasa.

“Apa pernikahan itu penting?”

“Iya.”

“Apa masalah ini penting?”

“… iya.” si Kelingking mulai ragu.

“Tante, siapa yang menentukan kalau hal-hal itu penting atau tidak?”

“… itu. Entahlah.” dia mulai bingung dengan apa yang kutanyakan.

“Apa hal yang paling penting dari menepati janji, pernikahan dan sahabat tante?” tanyaku lagi makin tidak mengerti jalan pikiran si Kelingking.

“Semuanya sama-sama penting…” jawabnya seimbang.

“Tante,,, apa janji-janji itu tidak bisa dibatalkan?”

“Mana bisa…?”

“Benarkah?”

“Iya.”

“Jadi, aku harus gimana…?” si Kelingking kembali bertanya.

Aku menatapnya dengan perasaan aneh. Dunia orang dewasa memang aneh. Banyak hal yang dianggap penting. Banyak hal yang harus ditepati. Tidak seperti duniaku yang isinya hanya tentang bermain. Dan tertawa.

Tagged , , , , , , ,

Analogi Cinta

Orang-orang bicara tentang cinta…
suatu hal yang lalu lalang dalam dunia yang tidak jauh berbeda,,,
atau… kadang ditaburi sentuhan-sentuhan beragam dalam bahasa yang ternyata sama saja…

Tapi bukankah cinta itu rasanya mirip seperti saat pertama kali kita belajar naik sepeda? Kita tahu kita tidak bisa mengatur arahnya, ketika ingin lurus… roda depan malah berbelok ke arah lain… tidak aneh kalau kita terjatuh… terluka… yaaaa,,, menangis… atau kesal…

Lalu,,, sedikit demi sedikit, kita belajar bagaimana mengendalikan roda depan itu,

beberapa orang berusaha mati-matian…
beberapa lagi, ternyata diberi keberuntungan… dan kemudahan…
beberapa lainnya mengalami trauma… dan lebih memilih untuk menyerah…

Eh? Baiklah,,, menyerah sesaat… bukan berarti tidak mau mencoba lagi bukan? =P

Yup… cinta itu rasanya tidak jauh berbeda seperti saat kita makan coklat yang enak sekali… Saking enaknya, kita lupa menyikat gigi… lupa kalau kita sedang diet, atau lupa kalau lemak di dalam coklat bisa membuat wajah kita berjerawat…

uuuurgggh,,, rasanya  menyebalkan… ketika sadar kalau saking enaknya coklat itu… malah akhirnya membuat kita mual dan kembung. Lalu kita berjanji tidak akan mau memakan coklat itu lagi. Mengangkat jari ke atas langit. Berteriak kencang-kencang. Bersumpah kalau coklat itu sudah jadi musuh seumur hidup yang paling pantang diajak berkompromi.

Tapi,,,

Ketika suatu hari tiba-tiba kita melihat coklat itu di pinggir toko… atau di atas meja makan,,, Sumpah itu luluh lantah… biasanya ada yang berbisik seperti ini ;

“Mungkin… kali ini rasanya akan berbeda,,, dan lebih baik…”


Cinta itu seperti harta karun… banyak orang mati-matian memburunya
Beberapa bahkan  menganggapnya seperti oksigen,,, “dia napasku… dia nyawaku…”
Itu kata mereka…

Tapi bagiku,,,
cinta itu seperti ayunan… aku duduk disana…
aku tahu kakiku bisa menggerakkan ayunan itu,,,
aku tahu aku tidak butuh orang lain di belakang punggungku,,,

hanya saja aku selalu berpikir kalau rasanya lebih enak kalau aku tidak perlu menggerakkan ayunan itu sendiri… mungkin angin yang kutabrak rasanya nanti akan lebih lembut kalau ada orang di belakangku…

Yaaa,,, cinta itu seperti contekan ujian yang kudapat di waktu yang tepat… mungkin itu hal yang berbahaya untuk dilakukan… ada resiko yang harus ditanggung… begitulah,,,

Mungkin cinta akan membuat segalanya lebih mudah,,, atau setidaknya “terasa” lebih mudah… tapi itu bukan berarti semua orang lain lenyap begitu saja… teman-teman, keluarga, musuh… diri sendiri,,, semuanya masih akan memberimu pekerjaan rumah dan catatan harian untuk dibaca… kan?

Cinta itu seperti anak ayam…
kita begitu menyayanginya, tapi takut menggenggamnya terlalu kuat karena rasanya ia rapuh sekali…
kadang kita bertanya-tanya bagaimanakah anak ayam ini setelah dewasa nanti?
Cantik kah? Jelek kah?

Setelah ribuan pertanyaan… akhirnya,,, kita hanya bisa menunggu… menikmati lucunya sang anak ayam sekarang ini… merawatnya baik-baik… sebagian karena kita senang melakukannya… di sisi lain,,, ada harapan dia akhirnya akan menetaskan telur emas atau telur-telur berharga lainnya… ^^

Tagged , , , , , , , ,
%d bloggers like this: