Serigala Tanpa Ekor

Serigala yang lebih sadis,
hidup atau mati… Siapa yang rela?
Beda, dia tanpa ekor.
Tanpa cara memahami cinta
untuk sendirinya,

hanya melolong
di tengah-tengah,
antara bulan… bukit gelap,
dan gulita yang biru lebam.

Taringnya menangis,
merah penuh marah, kadang setengah iba.
Karena dia tanpa ekor. 
Setengahnya lagi, berkilau duka.

Lupakan senja,
Bulan yang setengah saja
tiba-tiba gerhana.
Bagai tutup mata, dan buka mulut. 
Merintih, merintih pada benci.
Pada sendiri.

Lukanya menyakiti,
Dari lahir tanpa ekor.
Tanpa cinta, sang serigala.
Hanya melolong,
menyapa kabut… merangkul pelukan abu-abu,
yang dicari, lewat gigi-gigi tajam.

Serigala tanpa ekor,
kapan ada yang menyayangi?

Advertisements
Tagged , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: