The Bridge Of Lost Empathy

Anonim sudah sangat paham tentang alur di jalan itu, lampu-lampu palsu yang menyilaukan hati nurani, dua jalur yang diciptakan untuk saling bermusuhan, sebuah lorong  berbesi-besi yang menghubungkan keduanya, langit yang berombak, dan udara kotor yang padat oleh debu, peluh, dan ketidakjujuran.

Sang anonim hanya perlu menutup mata, dan semuanya jelas di dalam benaknya.

Hanya perlu sekitar 20 langkah, kemudian melewati sebuah belokan ke arah kanan, dia akan bertemu sebuah jalan lurus yang menyenangkan. Sedikit lebih jujur daripada arus yang lainnya. Di sebelah kirinya, bangunan raksasa yang penuh kemenangan berdiri megah, melupakan semua orang yang runtuh saat dirinya dibangun. Tidak lama, sebelum jarum jam berputar satu kali, dia akan bertemu dengan jembatan itu, dia menamainya—–Jembatan Tanpa Empati.

Jembatan itu dililit dengan paradoks dan anti-simpati, tanjakan rendah yang disediakannya akan membawa anonim pada sebuah tahap yang dia sadar hanya akan dilaluinya untuk sesaat. Di sana juga, sebelum dia benar-benar mulai mendaki ke atas, anonim seringkali akan menemukan pemandangan 2 orang balita yang bermain dengan bebatuan di samping tangga, di dekat mereka ada seorang wanita paruh baya yang terlihat lelah dan tak berdaya-yang sepertinya adalah ibu mereka-memandang sayu ke arah jalanan, lalu ke arah si anonim, sinar matanya meminta sesuatu. Tapi sang anonim sudah terbiasa mengacuhkannya.

Beberapa langkah selanjutnya membawa sang anonim ke lapisan yang lebih tinggi, dia dapat melihat bangunan pengkhianat di jalan yang menyenangkan tadi, lebih jelas, lebih membuatnya mencibir benci.

Dia juga dapat melihat lampu-lampu yang kehilangan arah, mereka menyala, terang, tapi tidak tahu kemana mereka harus membawa cahayanya.

Kemudian setelah beberapa langkah dan hembusan napas terengah-engah, di hari yang senjanya sangat hitam itu, dia bertemu dengan sebuah tas usang kecil yang terlantar di pojok jurang yang berkarat. Tas itu pasti milik seseorang yang belum genap berumur 10 tahun, pikirnya, dan sedetik kemudian, dia mengetahui kalau dugaannya tepat. Dia menemukan seorang anak laki-laki tertidur di sisi jembatan, jaket kotor-yang beradu kumal dengan warna kulitnya-menutupi kepalanya, dia pasti tidak ingin mendengar bisingnya suara di luar dirinya.

Strategi yang bagus, pikir anonim, jangan mendengarkan dunia di luar, itu bisa membunuh diri sendiri, begitu kan?

Selanjutnya, dia bertemu dengan seorang ibu yang wajahnya pucat seperti baru saja hidup kembali setelah mati membeku, tangannya mengulur panjang-panjang, melewati tubuh bayinya yang teronggok di pangkuannya. Sang anonim mengacuhkannya. Dia melakukannya tanpa pikir panjang, responnya itu juga diberikannya pada 3 orang berikutnya yang ditemuinya di jembatan itu. Semuanya membiarkan tangannya terulur panjang-panjang. Semuanya mengiba dengan pandangan yang sama, jatuh, dan benar-benar di bawah.

Tapi anonim tidak percaya, bisa saja mereka berpura-pura. Penipu ulung, aktor dan aktris berbakat yang penuh dusta. Hiburan yang memalukan untuk ditonton.

Kadang dia berpikir, apa dia bisa berpendapat seperti itu karena sudah bertemu dengan mereka setiap hari? Atau karena jembatan itu? Atau karena semua bisikan yang didapatnya dari orang-orang, media, dan udara padat di jalanan itu? Atau dia sudah dibutakan lampu-lampu jalanan licik yang penuh tipu daya?

Atau dia adalah seorang yang jahat?

Pertanyaannya yang terakhir itu selalu membuatnya kehilangan energi, membuatnya menjadi lebih lelah daripada bekerja 8 jam penuh selama satu hari. Beruntungnya, sambil memikirkan hal itu, dia telah berhasil melewati jembatan itu sekali lagi, sehari lagi.

Dan sambil melanjutkan perjalanannya, dia berharap dalam hati kalau saat dia melewati jembatan itu lagi di keesokan harinya, sesuatu akan berubah. Sesuatu dari jembatan itu—–atau dari dirinya sendiri.

Advertisements
Tagged , , , , , , , , , ,

2 thoughts on “The Bridge Of Lost Empathy

  1. simply human says:

    mengupas relung asa kehidupan … salut 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: