Si Gadis Kecil & Bintang Jatuh

Sebuah bangku berpunggung menjadi pijakannya, piyama besar berwarna indigo yang menjaganya dari masuk angin bergerak halus setiap kali si gadis kecil menjinjitkan kakinya. Dia pikir dia harus cukup tinggi, atau setidaknya lebih tinggi dari dirinya yang asli-tanpa bangku, tanpa berjinjit-untuk mencapai angkasa.

Sesekali dia menggapaikan tangannya tegak-tegak ke arah atas, berharap ada bintang yang akan tersaring ke dalam kepalan tangannya yang mungil. Matanya bersinar, terpukau oleh lampu-lampu melayang yang menempel di kanvas hitam berukuran tak terhingga di atas sana. Bulan begitu bulat. Langit begitu menawan. Dan sebuah bintang jatuh pun melengkapi malam itu.

“Mama! Cepat ke sini, lihat ada bintang jatuh!” pekik si gadis kecil sambil mengayuhkan tangannya seolah-olah itu bisa mempercepat kehadiran ibunya.

“Oh ya?” Ibu si gadis kecil yang tadinya sedang sibuk merapikan baju bergegas menghampiri anaknya yang ada di teras rumah. “Mana?” tanyanya saat sampai ke sisi si gadis kecil, mengitarkan mata ke segala arah tapi tidak melihat bintang jatuh yang disebutkan anaknya.

“Sudah hilang,” kata si gadis kecil sedikit kecewa karena ibunya datang terlambat.

“Wah, sayang sekali, padahal kalau ada tadi mama mau membuat permohonan.”

“Permohonan? Kenapa?”

“Karena, katanya si bintang jatuh akan mengabulkan permohonan itu,” kata Ibu si gadis kecil sambil membetulkan poni anaknya lalu menoel hidungnya sampai dia terkekeh geli.

“Benarkah itu, Ma?”

Ibunya mengangguk sambil tersenyum.

“Mama, lihat! Ada bintang jatuh lagi!” si gadis kecil memekik lagi sambil menunjuk ke sebuah cahaya terang yang melesat cepat ke arah Barat Laut.

“Wah, benar!” kata sang ibu saat melihat sinar yang sama. “Ayo cepat kita pejamkan mata dan buat permohonan, sayang,” sambung Ibu sambil melakukan perintahnya sendiri.

Beberapa detik berlalu. Ibu dan si gadis kecil hanyut dalam pejam itu, masing-masing merapalkan permohonan mereka di dalam hati dengan penuh kesungguhan. Setelah selesai, mereka membuka mata cepat-cepat. Sang bintang jatuh sudah hilang.

“Apa permohonanmu, sayang?” tanya ibu sambil memeluk pinggang si gadis kecil.

“Ra-ha-si-a.” Si gadis kecil tersenyum kekanakan memamerkan giginya yang ompong di bagian kanan atas.

Ibu melirik dengan tatapan menyudut, dia tahu benar caranya mengikuti permainan si gadis kecil. Tangan yang dipakainya untuk memeluk pinggang anaknya pun mulai beraksi, jarinya menari-nari menggelitik si gadis kecil. “Ayo, mau main rahasia-rahasia-an sama mama ya?”

“hihihi …” Si gadis kecil kegelian dengan jurus gelitikan ibu. Tapi di sisi lain sebenarnya dia menyukainya.

“Ayo, beritahu mama. Apa permohonanmu?” Ibu mulai menusuk-nusuk pelan perut si gadis kecil. Membuat si gadis kecil terpingkal-pingkal seperti kelinci yang kekenyangan oleh wortel segar.

“Iya, iya, aku beritahu.” Si gadis kecil menahan ‘serangan’ ibu dengan tangan mungilnya. Setelah berhasil mengatasi kegelian dan pingkalnya sendiri, dia berujar sambil menatap ibunya dengan mata nanar, “Aku berharap si bintang jatuh baik-baik saja, Ma.”

Ibu menekuk lehernya, tidak berhasil memahami perkataan anaknya. “Hah? Apa maksudmu, sayang?”

“Iya, mama. Si bintang sudah jatuh dari langit setinggi itu, lalu harus berpisah dari teman-temannya, kasihan sekali kan? Semoga dia baik-baik saja.”

Ibu terdiam. Masih belum sepenuhnya berhasil mencerna apa yang disampaikan anaknya. Matanya menatap ke arah jatuhnya bintang yang tadi dilihatnya. Dalam hatinya kata-kata si gadis kecil bergaung-gaung. Si bintang jatuh dari langit setinggi itu, lalu harus berpisah dari teman-temannya, kasihan sekali kan?

“Mama,” panggil si gadis kecil membangunkan ibu dari lamunannya.

“Iya, sayang?”

“Apa tidak ada yang peduli pada si bintang yang sudah jatuh itu?”

Ibu tidak mampu memberikan jawaban untuk anaknya. Karena kalau dia bilang ‘tidak’, seperti yang memang dilakukannya, bukankah itu akan terdengar jahat? Tapi kalau dia bilang ‘ada’, padahal dia tidak tahu siapa yang peduli (selain anaknya), bukankah itu akan menjadi sebuah kebohongan? Jadi dia hanya bisa tersenyum.

“Sudah malam, sayang, tidur yuk,” ajak ibu sambil tersenyum hambar, berusaha mengalihkan pembicaraan itu.

“Tunggu, Ma!” hardik si gadis kecil tidak terjebak siasat ibunya. “Apa permohonan mama?”

Ibu tertegun sejenak. Merasa sedikit sesak karena tahu bila permohonan yang dibuatnya diketahui si gadis kecil, anaknya pasti akan sangat kecewa padanya. Bagaimana bisa dia memberitahu anaknya kalau dia baru saja memohon supaya lebih banyak bintang yang jatuh sehingga dia bisa membuat permohonan yang lebih banyak lagi. Bukankah itu akan terdengar sangat ‘egois’ dan ‘tidak berperasaan’? Tentu saja bagi anaknya itu akan tampak seperti tidak peduli betapa banyak korban yang jatuh asalkan impiannya bisa terwujud, dan itu akan terdengar sangat—–kejam, kan?

Jadi dia mengecup pipi anaknya itu dan membisikkan suatu kalimat di telinganya. Kata-kata itu kemudian membuat si gadis kecil tersenyum puas dan melompat turun dari bangku yang dipijaknya. Lalu mereka berdua masuk ke dalam rumah sambil bergandengan tangan.

Tanpa mereka sadari, sebuah bintang jatuh lagi dari langit.

Kali ini warnanya indigo.

Advertisements
Tagged , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: