The Pinky Swear Story

Entah itu hari apa. Entah jam berapa saat itu.

Hanya saja langit sudah tidak begitu terang lagi.

Hari sudah hampir gelap. Begini kah cara menjelaskan cuaca…???

Apakah ini sore? Senja? Atau sekedar mendung hampir hujan…?

Ada seseorang di sana. Duduk sendirian dengan rambut panjangnya yang tergerai acuh. Sesekali dia menarik poninya ke belakang, menunjukkan parasnya yang galau. Seorang wanita separuh baya. Aku tidak tahu siapa dia. Dia tidak tahu siapa aku.

Hanya Tuhan yang tahu kenapa kita bisa bertemu saat ini.

Tuhan, atau takdir…???

Taman itu sepi sekali. Atmosfir yang ada membuat semua hal indah di tempat itu terlihat agak menyeramkan. Rerumputan yang hijau tampak semu warnanya. Siapa dia? Wanita dengan rambut panjang itu…?

Lalu tidak lama kemudian dia tersadar akan kehadiran ku di sana. Sedikit terkejut. Sedikit malu. Lalu dia mengusap matanya. Aku melihat ada yang membuat matanya basah. Ada apa? ada apa wahai gadis berambut panjang???

Aku tersenyum. Reaksi spontan. Manusiawi kah? Entah lah, yang penting dia balas tersenyum. Ya,itu lah yang terjadi, kita berdua di bawah langit yang labil tersenyum seperti orang bodoh. Pertanyaan berikutnya, “Siapa namanya? Siapa namaku?”

Sekedar memperkenalkan. Panggil saja aku si Telunjuk. Dan gadis berambut panjang itu? Mari kita namai dia si Kelingking.

Jadi, begini lah bagaimana Telunjuk dan Kelingking bertemu. Di sebuah taman. Di hari yang agak gelap. Tidak ada bunyi biola. Tidak ada yang romantis sama sekali. Lagipula untuk apa? Umurku baru 9 tahun. Dan si Kelingking ini mungkin sudah 30 tahun.

Aku membawa bola basket ku yang kotor lalu berjalan ke arahnya. Duduk di ayunan yang berderit aneh begitu kududuki. Kriiiieeett…. kriiieeet… ah, ini menyenangkan… aku pun mulai memainkan ayunan itu, sedikit melupakan si Kelingking.

Si Kelingking kembali tersenyum padaku. Rambutnya tersapu angin. Dengan sigap dia merapikan rambutnya dengan sisiran segenggam tangannya. Parasnya kembali terlihat jelas. Sedih. Aku tahu ekspresi itu, ekspresi yang sama seperti wajah mama saat dia tahu papa dipecat dari pekerjaannya.

“Tante kenapa?” aku pun usil bertanya.

“…” si Kelingking hanya tersenyum. Tidak ada jawaban. Menyebalkan. setidaknya beri aku sedikit petunjuk.

“Tante habis nangis ya?”

“…” dia hanya tersenyum. Lagi.

“Tante ngapain di sini sendiri?”

“… entah lah.” kali ini dia tidak tersenyum. “kamu sendiri…?”

“…” aku diam. Tersenyum. Balas dendam. Sangat kekanakan ya.

“Tante lagi bingung nih…” akhirnya si Kelingking berujar, “Tante ada satu cerita, kamu mau dengar?”

Aku mengangguk. Menapakkan kakiku ke pasir di bawah ayunan. Memeluk bola basketku dan meletakkan daguku di sana. Mataku membulat ingin membaca kisah yang akan disampaikan si Kelingking.

“Dulu, ada seorang gadis yang sangat tepat janji. Bila dia sudah berjanji, pasti akan dia tepati. Begitu terus, sampai suatu waktu dia bertemu dengan masalah yang membuatnya bingung. Masalah dengan janji.”

“Apa itu…?” aku mengejar tidak sabaran.

“Saat dia menikah, dia berjanji pada suami dan semua saksi pernikahannya, kalau tidak akan ada rahasia dan kebohongan dalam pernikahan mereka. Dia berjanji. Kelingking bertemu dengan kelingking. Pinky swear.” Si Kelingking tersenyum miris saat mengatakan hal itu. Emosi yang tertahan nampak dari raut wajahnya.

“Lalu, apa yang terjadi? Dia ingkar janji…?”

“Tidak… dia selalu menepati janjinya, ingat? Dia tidak pernah ingkar janji. Hanya saja, setelah beberapa bulan menikah, seseorang datang menemuinya. Seorang sahabat lama. Seorang pria. Mereka memutuskan untuk bertemu dan berbagi cerita hidup. Larut dalam canda dan keasikan, dalam pertemuan itu, sahabat gadis itu memberitahu sebuah rahasia kepadanya. Sebuah rahasia yang tidak boleh diberitahukan kepada siapa pun. Dan gadis itu pun berjanji… seperti biasanya… pinky swear. Dan dia akan menepatinya.”

“Apa rahasia yang disampaikan pria itu, tante?” tanyaku polos. Makin penasaran.

“Hahaha. Rahasia…”

“…” aku memasang muka sebal. Dia menjulurkan lidah kecil sembari meledek lalu melanjutkan ceritanya.

“Sesampainya di rumah, baru lah masalah itu muncul. Suami sang gadis ingin tahu apa yang dibicarakan sang gadis dan sahabatnya itu. Tapi sang gadis tidak bisa mengatakannya, dia sudah berjanji pada sahabatnya itu. Di sisi lain, suaminya berkeras ingin tahu dan menuduh kalau dia sudah melanggar janji pernikahannya untuk tidak merahasiakan hal apa pun satu sama lain… Mereka bertengkar hebat. Tidak ada yang mau mengalah. Akhirnya sang gadis kabur dari rumah untuk mencari solusi untuk kedua janji yang saling menentang ini…”

“Ah,,, aku tahu siapa gadis itu…!” aku berseru penuh semangat. Itu pasti si Kelingking.

“Haha… jadi, menurut kamu, apa yang harus dilakukan gadis itu sekarang?”

“Kenapa tidak menceritakan pada suami saja apa yang dibicarakan itu, sehingga tidak perlu bertengkar…?”

“Tidak bisa seperti itu, kan dia sudah berjanji sama sahabatnya.”

“Tapi kalau tidak cerita nanti suaminya marah terus kan…”

“Benar, karena mereka sudah janji kalau tidak akan rahasia satu sama lain.” Si Kelingking menghela napas panjang. Kembali berpikir. Mencari solusi untuk masalah yang sama. Tapi tidak ada jawabannya. Dia tidak tahu dia harus bagaimana.

Aku turun dari ayunanku. Sengaja menginjak pasir di bawah ayunan itu keras-keras karena rasanya menyenangkan. Sambil membawa bola basketku di tangan, aku berjalan mendekat ke arah si Kelingking.

“Tante…” aku memanggilnya. Membuatnya tersadar kalau aku sekarang ada di depannya.

“Iya?” dia melihat ke wajahku dalam-dalam.

“Apa menepati janji itu penting?” tanyaku polos. Aku masih tidak begitu mengerti dengan masalah ini.

“Tentu saja…” dia tersenyum. Sok dewasa.

“Apa pernikahan itu penting?”

“Iya.”

“Apa masalah ini penting?”

“… iya.” si Kelingking mulai ragu.

“Tante, siapa yang menentukan kalau hal-hal itu penting atau tidak?”

“… itu. Entahlah.” dia mulai bingung dengan apa yang kutanyakan.

“Apa hal yang paling penting dari menepati janji, pernikahan dan sahabat tante?” tanyaku lagi makin tidak mengerti jalan pikiran si Kelingking.

“Semuanya sama-sama penting…” jawabnya seimbang.

“Tante,,, apa janji-janji itu tidak bisa dibatalkan?”

“Mana bisa…?”

“Benarkah?”

“Iya.”

“Jadi, aku harus gimana…?” si Kelingking kembali bertanya.

Aku menatapnya dengan perasaan aneh. Dunia orang dewasa memang aneh. Banyak hal yang dianggap penting. Banyak hal yang harus ditepati. Tidak seperti duniaku yang isinya hanya tentang bermain. Dan tertawa.

Advertisements
Tagged , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: