The Easiest Couple

Jadi, di sanalah aku dan kamu berpisah hari itu. Di dalam sebuah cafe  yang lantainya seperti papan catur dengan dinding dari batu firus  imitasi. Jendela Palladian berada di sebelah tubuhku. Kacanya transparan  seperti kristal, dari sana aku bisa melihat orang di bawah jalan.  Mereka sibuk berlarian. Gadis-gadis dengan tulle-nya yang megah dan pria-pria dengan sepatu brogannya. Aku melihat ke atas, langit sudah mendung. Pantas saja.

Aku ingat waktu itu aku baru saja pulang dari toko buku langgananku setelah menerima surat yang kamu kirim dengan merpati warna hijau.

Iya,

hijau yang berarti kiriman ekspress.

Pasti, untuk sesuatu yang penting.

Saat aku sampai di sana, aku tidak menemukanmu, lalu aku ingat kamu pasti masih sibuk dengan pelanggan di toko permenmu—-anak-anak kecil itu, yang sama gilanya dengan orangtua mereka—–yang tingkahnya sangat sering kita bicarakan dan kita jadikan lelucon. Aku tahu persis akan hal itu, itu sebabnya aku bisa menghitung berapa lama lagi baru kamu akan muncul. Jadi aku memesan segelas jus Aprikot dan menunggu sambil terus memandangi orang-orang di luar sana.

Lalu, seperti yang sudah aku perhitungkan, kamu datang tepat waktu dengan senyuman di sisi kanan wajahmu, dan rahasia di sisi satunya lagi. Setelah melihatku, kamu melangkah lima kali ke arahku.

Dua langkah pertama di atas kotak hitam,

langkah ketiga di kotak putih,

langkah keempat membelah garis antara.

Dan akhirnya kamu benar-benar berhenti di kotak hitam. 

Ya, hitam…

“Maaf aku terlambat.” Katamu dengan nada sedikit mengiba. Lalu kamu duduk, menjatuhkan rambutmu ke depan hanya untuk menariknya kembali ke belakang dengan tangan kirimu. Gestur yang indah.

“Oh, tidak apa-apa, aku juga baru sampai.” Aku menarik otot pipiku sedikit ke atas, bukan tersenyum. Bukan.

“Udah pesan?” tanyamu padaku sambil menarik buku menu.

Aku tidak menjawab. Responku hanya mengangkat segelas jus Aprikot yang sudah hampir habis dan memamerkannya sebagai isyarat. Kamu pasti sudah mengerti artinya itu.

“Baiklah, kalau begitu seperti biasa saja ya, dua porsi favorit kita?” Kamu mendelik ke arahku. Matamu nanar dan lehermu sedikit menjuntai dari bahumu. Aku tidak menjawab, sebenarnya belum sempat. Pramusaji terlanjur datang ke meja kita. Dan kamu tidak perlu persetujuanku lagi. Seperti kataku, kamu sudah mengerti.

Jarimu menunjuk-nunjuk isi di buku menu. Pramusaji mengangguk-angguk sambil mencatat pesananmu untuk kita. Lampu paraffin yang menggantung di atas meja menciptakan siluet indah di  beberapa bagian wajahmu. Membuatmu terlihat makin cantik.

Lalu sang pramusaji itu pun pergi. Meninggalkan kita berdua——

maaf…

maksudku bertiga,,,

aku, kamu, dan jendela Palladian yang sudah mulai berembun di samping kita itu.

Kamu ingat?

Lalu aku pun tidak sabar lagi untuk membongkar rahasia di sisi kiri wajahmu yang kamu bawa sejak masuk ke tempat itu. Dan aku yakin, kamu juga sebenarnya ingin aku melakukan hal yang sama secepat-cepatnya, bukan?

“Jadi, ada apa? Apa ada sesuatu yang penting?” Tanyaku tanpa basa-basi.

“Tentu saja. Itu merpati warna hijau, tuan tidak sensitif.” Katamu dengan raut sedikit kesal.

“Oh, maaf aku tidak tahu.” Aku berbohong. Padahal aku tahu, dan aku hanya ingin memastikan saja.

Lucunya, kata-kataku itu sepertinya membuatmu rubuh. Di saat itu juga kamu tertunduk dan mulai melihat ke bawah meja. Gerakan itu juga membuatmu menjatuhkan rambut panjangmu sekali lagi, kali ini dalam jumlah yang lebih banyak. Lalu saat aku kira kamu akan menariknya ke belakang (seperti biasanya), ternyata kamu tidak melakukannya. Kamu malah masih melihat ke titik yang sama. Ke bawah.

“Aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini.” Katamu singkat.

“Kenapa?” Anehnya, aku tidak kaget.

“Karena hubungan ini tidak berhasil.”

“Apa maksudmu?”

“Sudahlah, jangan berpura-pura lagi, kamu jelas-jelas tahu maksudku.”

“Kita tidak pernah bertengkar, atau beradu mulut, semuanya baik-baik saja, kan? Kita menyukai hal yang sama, kita tidak pernah marah satu sama lain. Lalu apa yang salah?”

“Itu masalahnya. Lihat, kamu tidak pernah cemburu padaku, aku juga. Kita tidak pernah punya satu hal pun untuk diperdebatkan. Satu kali pun tidak. Semuanya baik-baik saja. Dan itu membuat hubungan ini terasa aneh.” Kamu mendorong tubuhmu ke belakang sampai punggungmu menempel ke pinggang kursi sebelum mengulangi kalimat itu sekali lagi, “Semuanya baik-baik saja. Bukankah itu sebuah masalah yang besar?”

     Aku tidak menjawab.

     Sedetik kemudian pramusaji kembali dengan pesanan kita.

     Itu situasi yang aneh. Benar-benar aneh.

“Baiklah.” Kataku tidak menunggu sang pramusaji itu pergi. Kali ini aku tersenyum.

Kamu melihatku dengan tatapan ganda. Antara percaya atau tidak. Antara menerima atau menolaknya. Tapi akhirnya, kamu ikut tersenyum.

Ternyata semudah ini.” Sebuah kebetulan. Kita mengatakan hal itu bersama-sama. Kamu ingat kan?

Lalu kita menghabiskan pesanan kita dengan lahap. Sambil membicarakan segala hal seperti biasanya. Benar-benar sama, seolah-olah tidak ada yang telah terjadi. Semuanya sama saja kecuali kenyataan kalau hubungan kita sudah memiliki judul baru—–sudah berpisah.

Kamu masih bisa  ingat waktu itu, kan?

Kan…?

————————————————————————————————————————————-

Sekarang. Kita bertemu lagi di tempat ini. Aku masih bisa menemukan jendela Palladian yang sama, masih bisa menapaki lantai papan catur yang sama, dan menikmati parasmu saat lampu Paraffin yang senang menciptakan siluet itu beraksi tanpa bosannya. Semuanya benar-benar masih sama saja. Bahkan kita bertemu di tempat ini dengan cara yang sama, lewat surat yang dikirim dengan merpati warna hijau. Bedanya, kali ini aku yang melakukannya.

“Kamu terlihat tua.” Kataku saat melihat rambutmu sudah memutih semuanya. Aku penasaran apa kamu masih sering menjatuhkannya ke depan seperti dulu atau tidak.

“Kamu juga.” Balasmu sengit. Lalu sang pramusaji datang. Kamu melirik ke arahku, kali ini memberiku pertanyaan berbeda, “Apa menu favorit kita masih sama?”

“Jus aprikot.” kataku—–kamu pasti sudah mengerti.

Kamu tersenyum. Aku juga. Lalu kamu menunjuk-nujuk isi di buku menu itu. Sang pramusaji mencatat pesananmu untuk kita. Lalu dia pergi.

“Apa kabarmu?” Tanyamu singkat, tapi membuat otak pikunku terpaksa bekerja sangat keras untuk memberi penjelasan yang lebih baik daripada sekedar kata-kata ‘baik-baik saja‘.

“Pinggangku sudah reot, kepalaku sering gatal oleh uban, pencernaanku sudah mulai bermasalah dan cucu-cucuku sangat sering membuatku kerepotan, bagaimana denganmu?”

“Hampir sama, hanya saja lebih parah. Aku sudah menopouse-dan kamu pasti tahu apa artinya itu, dan penglihatanku sudah kabur, saat ini aku punya pandangan seperti mata lalat.”

Lalu kita tertawa. Terkekeh lebih tepatnya lagi, lalu sama-sama terbatuk pelan. Astaga, kita benar-benar sudah tua. Aku melihat ke bawah dari balik jendela Palladian, seperti yang dulu kulakukan saat kita berpisah. Aku mendapati pemandangan yang sama, gadis-gadis dengan tulle mereka, dan pria-pria dengan sepatu brogan mereka.

“Hei, mau coba melanjutkan hubungan kita yang dulu?” Tanyaku singkat.

“Baiklah.” Jawabmu lebih singkat lagi, tepat di saat tanda tanya jatuh di ujung kalimatku.

Kita diam sejenak. Sama-sama mencerna dulu apakah masing-masing dari kita hanya bercanda atau serius. Tidak lama, hanya butuh lima detik. Satu, dua, tiga, empat, lima. Dan kita sama-sama mengerti.

Ternyata semudah ini.” Kita sama-sama mengatakannya bersamaan, sekali lagi.

Advertisements
Tagged , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: