That Cat On The Roof

Di suatu kota besar di suatu benua, ada kisah tentang seekor kucing di atas atap… yup, kucing cantik dengan rambut-rambut halusnya yang mempesona dan mata tajam yang dilukis dengan busur korona tipis. Hipnotif. Seperti gerhana bulan.

Dia tinggal sendirian di atap rumah yang sama… setiap hari…
bahkan hampir setiap waktu, dia ada di sana.

Tidak ada yang tahu kenapa kucing itu selalu berada di sana. Tidak ada yang tahu kenapa dia tidak mau turun dari atap dan bermain bersama kucing-kucing lainnya yang tinggal di lingkungan sekitar situ. Yaa, di sana sebenarnya terdapat cukup banyak juga kucing-kucing lainnya. Bedanya, mereka tidak berada di atas atap… well, tidak sepanjang waktu lebih tepatnya lagi.

Di antara kucing-kucing yang ada di lingkungan itu, ada seekor kucing Maltese yang sebenarnya sangat merasa penasaran tentang sosok kucing di atas atap itu. Lebih tepatnya lagi, mengagumi.

Maltese seringkali sengaja melewati gang yang berada tepat di bawah posisi kucing di atas atap. Dia suka memperhatikan bagaimana kucing di atas atap bersender manis memperhatikan lingkungan sekitarnya. Bagaimana dia menguap lucu sampai gigi-gigi runcingnya yang (mengejutkannya) berwarna putih bersih terlihat jelas. Tapi, Maltese tidak pernah berani… benar-benar menanyakan kepada kucing di atas atap itu, kenapa dia tidak mau turun dari sana…?

Miaaaowwww……

Kucing di atas atap sendiri, sebenarnya sudah hapal dengan sosok Maltese. Ya,,, dia tahu kalau Maltese adalah pemimpin geng kucing di wilayah itu. Cakarnya tajam. Dia berwibawa. Dia baik hati dan suka memberikan bagian makanannya pada kucing yang masih bayi serta yang sudah lanjut usia. Sebuah perasaan kagum juga sudah lama muncul di benak sang kucing di atas atap.

Pada suatu hari, sebuah badai melanda kota itu. Angin dingin yang lembab dan ganas menyapu seluruh isi kota. Hujan tidak mau berhenti. Ini adalah badai dingin paling buruk yang pernah terjadi di kota itu.

Kucing-kucing di seluruh lingkungan masing-masing berkumpul bersama, mendekatkan diri satu sama lain supaya udara yang dingin dapat ditangkal dengan panas tubuh yang terkumpul dari para kucing. Maltese sebagai kepala pimpinan kucing dengan sigap mengatur pengelompokan kucing selama badai itu berlangsung. Semuanya rapi dan teratur. Sempurna.

Lalu, saat dia mau ikut bergabung ke kumpulan kucing lainnya untuk menghangatkan tubuh, dia teringat akan sang kucing di atas atap. Apa yang akan terjadi padanya? Apa dia bisa bertahan? Meskipun bulunya tebal, apa dia bisa bertahan menghadapi badai dingin ini? Sendirian?

Ah, sepertinya aku harus menghampirinya…

Akhirnya Maltese pun pergi ke gang yang biasanya. Sesampainya di sana, dia melihat kepada sang kucing di atas atap. Dia terlihat baik-baik saja. Duduk dengan tenang meski diterpa angin dingin yang kadang disertai serpihan es dengan derajat minus. Saat itu juga, kucing di atas atap melihat kepada Maltese yang ada di bawahnya. Mereka saling terdiam satu sama lain. Saling menatap dengan mata busur mereka itu.

Tahukah kalian apa yang sebenarnya ada di dalam pikiran mereka???

Sang Maltese, ketika melihat kucing di atas atap terlihat baik-baik saja, dia mengurungkan niatnya untuk mengajaknya turun dan berkumpul bersama. Ya, dia tidak berani menyatakan perasaannya. Betapa dia ingin kucing di atas atap turun dan ikut dengannya. Mulai hidup bersamanya. Maltese berpikir, apa mungkin kucing di atas atap nantinya akan mau mengiyakan ajakannya? Karena takut ditolak, dia pun diam saja. Hilang sudah kesempatan itu.

Padahal sebenarnya dia salah besar, kucing di atas atap, sebenarnya sudah hampir tidak bisa bergerak karena saking kedinginannya. Dia pikir dia akan selamat saat Maltese datang, tapi dia bingung kenapa Maltese hanya berdiri di sana. Sebenarnya dia ingin berteriak, “aku butuh kamu…” tapi dia tidak berani. Karena dia pikir, kenapa dia tidak mencoba naik terlebih dahulu, kenapa dia hanya berdiri di sana dan memandanginya… Kucing di atas atap tentu saja tidak mengerti alasan sebenarnya Maltese datang ke sana. Dia sedih sekali karena dia akhirnya berpikir bahwa Maltese hanya senang menontoni dirinya saja, ya… kucing di atas atap mengurungkan niatnya juga. Selesai.

Alkisah, kemudian…

Maltese pun pergi… meninggalkan sang kucing di atas atap. Dia tidak tahu, kalau itu adalah saat terakhir dia akan bisa melihat kucing di atas atap yang disayanginya itu duduk manis dan menguap lucu…

Yaa, itu semua karena mereka satu sama lain tidak berani mengungkapkan perasaan mereka yang sebenarnya. Ironis… Bukankah seharusnya mereka bilang saja apa yang sebenarnya ada di dalam benak mereka? Persoalan ditolak atau diterima, bisa dipikirkan nanti saja… bukankah lebih baik kalau mereka mencoba,,, daripada saling menunggu sampai salah satunya… benar-benar… pergi…???

Advertisements
Tagged , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: