Analogi Cinta

Orang-orang bicara tentang cinta…
suatu hal yang lalu lalang dalam dunia yang tidak jauh berbeda,,,
atau… kadang ditaburi sentuhan-sentuhan beragam dalam bahasa yang ternyata sama saja…

Tapi bukankah cinta itu rasanya mirip seperti saat pertama kali kita belajar naik sepeda? Kita tahu kita tidak bisa mengatur arahnya, ketika ingin lurus… roda depan malah berbelok ke arah lain… tidak aneh kalau kita terjatuh… terluka… yaaaa,,, menangis… atau kesal…

Lalu,,, sedikit demi sedikit, kita belajar bagaimana mengendalikan roda depan itu,

beberapa orang berusaha mati-matian…
beberapa lagi, ternyata diberi keberuntungan… dan kemudahan…
beberapa lainnya mengalami trauma… dan lebih memilih untuk menyerah…

Eh? Baiklah,,, menyerah sesaat… bukan berarti tidak mau mencoba lagi bukan? =P

Yup… cinta itu rasanya tidak jauh berbeda seperti saat kita makan coklat yang enak sekali… Saking enaknya, kita lupa menyikat gigi… lupa kalau kita sedang diet, atau lupa kalau lemak di dalam coklat bisa membuat wajah kita berjerawat…

uuuurgggh,,, rasanya  menyebalkan… ketika sadar kalau saking enaknya coklat itu… malah akhirnya membuat kita mual dan kembung. Lalu kita berjanji tidak akan mau memakan coklat itu lagi. Mengangkat jari ke atas langit. Berteriak kencang-kencang. Bersumpah kalau coklat itu sudah jadi musuh seumur hidup yang paling pantang diajak berkompromi.

Tapi,,,

Ketika suatu hari tiba-tiba kita melihat coklat itu di pinggir toko… atau di atas meja makan,,, Sumpah itu luluh lantah… biasanya ada yang berbisik seperti ini ;

“Mungkin… kali ini rasanya akan berbeda,,, dan lebih baik…”


Cinta itu seperti harta karun… banyak orang mati-matian memburunya
Beberapa bahkan  menganggapnya seperti oksigen,,, “dia napasku… dia nyawaku…”
Itu kata mereka…

Tapi bagiku,,,
cinta itu seperti ayunan… aku duduk disana…
aku tahu kakiku bisa menggerakkan ayunan itu,,,
aku tahu aku tidak butuh orang lain di belakang punggungku,,,

hanya saja aku selalu berpikir kalau rasanya lebih enak kalau aku tidak perlu menggerakkan ayunan itu sendiri… mungkin angin yang kutabrak rasanya nanti akan lebih lembut kalau ada orang di belakangku…

Yaaa,,, cinta itu seperti contekan ujian yang kudapat di waktu yang tepat… mungkin itu hal yang berbahaya untuk dilakukan… ada resiko yang harus ditanggung… begitulah,,,

Mungkin cinta akan membuat segalanya lebih mudah,,, atau setidaknya “terasa” lebih mudah… tapi itu bukan berarti semua orang lain lenyap begitu saja… teman-teman, keluarga, musuh… diri sendiri,,, semuanya masih akan memberimu pekerjaan rumah dan catatan harian untuk dibaca… kan?

Cinta itu seperti anak ayam…
kita begitu menyayanginya, tapi takut menggenggamnya terlalu kuat karena rasanya ia rapuh sekali…
kadang kita bertanya-tanya bagaimanakah anak ayam ini setelah dewasa nanti?
Cantik kah? Jelek kah?

Setelah ribuan pertanyaan… akhirnya,,, kita hanya bisa menunggu… menikmati lucunya sang anak ayam sekarang ini… merawatnya baik-baik… sebagian karena kita senang melakukannya… di sisi lain,,, ada harapan dia akhirnya akan menetaskan telur emas atau telur-telur berharga lainnya… ^^

Advertisements
Tagged , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: