43 Cinta Dalam Bait Tanpa Alur

Kalau di jari ini ada 10 benang kasat mata yang menjalin kita dalam hari-hari rindu dan biru,,,
tahukah kau alasan aku datang lalu pergi…?

Satu, kau lihat sepasang mata yang dirangkai bina-binar… atau ku lirik 2 dunia dalam bingkaimu?

dua, kenali aku… tiga, kau tak kan percaya… aku masih ragu-ragu,,,

empat, pengakuan jadi alasan mau dan tidak mau…

kalau bukti cinta itu ada, mengapa aku masih diam saja dan kamu belum bicara apa-apa? Akui sesuatu… katakan hal-hal yang belum tentu ingin ku dengar… biasa saja… terlalu sering? tidak pernah? Apa itu kamu sayang dan peduli? Jangan bercanda… kita belum tahu apa-apa… jangan bilang kamu tidak tahu apa-apa… serius lah…

lima, apa perlu kita saling mengelak?

enam, telah kucatat senyum manismu itu, apa kau sadar aku begitu senang melihatmu bahagia?

tujuh, kau mabuk… delapan, aku berusaha tidak peduli…

sembilan, apa yang sedang kita lakukan ini? Cinta?

Di seberang jembatan itu ada pelangi 7 warna, rasanya kurang lengkap, langit sejuk berawan… masih ada ruang yang belum sempurna… apa yang ku cari? apa yang kau cari? apa yang kita tunggu?

sepuluh, angka sempurna… penuh… tapi kita?

sebelas, sejak kapan kita mulai jadi lambang aku dan kamu? kenapa tidak aku dan dia? Apa ini? Jelaskan padaku…

dua belas, lalu tiba-tiba kita sama-sama pergi… jeda itu lama…

tiga belas, …. kita… menjauh…

empat belas, apa ini? apa ini? air mata? hahaha… jangan buat aku tertawa…

sejak kapan jendela itu jadi tempat kamu menghabiskan waktu, hey… apa yang kau tunggu di sana? Kesepian kah? Kesendirian kah? Kamu ingin seseorang datang bermain dalam dunia mu… tapi, kenapa kau pegang kunci itu erat-erat? Aku di depan pintu… berdiri tanpa tahu apa yang harus aku lakukan… apa lebih baik aku lompat masuk saja dari jendela…? Tapi itu… bodoh…

lima belas, sepertinya bel rumahmu sudah rusak…

enam belas, hey, jawab aku…

tujuh belas, ya… sekarang giliranmu… haha… ini lucu… ironis… cih…

Kamu duduk di sampingku, aku pura-pura membaca halaman yang sudah kulewati ratusan kali itu… aku tidak tahu apa yang kamu pandang… hanya saja, aku tahu kamu peduli padaku… lalu?

delapan belas, apa pintu sudah kau buka?

sembilan belas, ya… ya… ya… tapi aku sudah pergi…

Kali ini kau sudah ada di depanku,,, aku di depanmu… janji itu sudah habis, sayang sekali. Apa kita mau mulai dari awal lagi? Kita bertemu… kau tanya namaku… aku buat kau tersenyum… hahaha… jangan tertawa… ini tidak lucu… ini sakit… sakit seperti waktu aku jatuh ke sumur waktu aku kecil, takut… sendirian… jangan tutup lampu itu, jangan buat dunia ku gelap sekali lagi…

Belum… belum… aku belum siap, perjalanan ini terlalu jauh, sepatuku rusak, lihat…
kau sendiri… haha… rambutmu compang-camping… wajahmu kotor, ini Jakarta… apa yang kita harapkan…? Racun dimana-mana… tenang saja, kau tetap menawan… aku tidak peduli, ini seperti saat kamu lihat wajahku… kamu tahu aku bodoh… tapi kamu tetap minta aku mengajarimu matematika itu…

dua puluh, … kemana khayalan kita melompat-lompat?

dua puluh satu, apakah akhir ini sudah dekat? Seperti garis itu yang kau gambar di samping anak kecil yang rambutnya dikepang 2…

dua puluh tiga, sudah jam sepuluh… hey, aku terlambat lagi… tapi bukannya kamu sudah hapal tingkah laku ku?

dua puluh empat, jangan berteriak padaku, aku tidak suka…

dua puluh lima, jangan pernah berpikir aku tidak punya perasaan…

kau pikir kau lah yang paling sedih kalau kita bertengkar, kenapa aku harus begini dan begitu dan kau yang bilang kerjakan! Kerjakan! Hey,,, siapa aku? siapa kamu?

dua puluh enam, besoknya kamu bawakan coklat dengan kacang almond di dalamnya…

dua puluh tujuh, jangan lupa kalau kita tidak hidup berdua saja…

Hari ini aku membawa titik-titik kosong dalam kendi yang kuharap dapat kau temukan dasarnya, ini kejutanku… karena kejutan itu membahagiakan… haha… apa kita sudah bahagia? Apa pelangi itu sudah sempurna?

dua puluh delapan, kamu bilang kamu bahagia…

dua puluh sembilan, haha… jangan kekanak-kanakan… jangan bilang aku ini manja…

tiga puluh, apa lagi yang kita harapkan?

kamu lebih suka mengacak-acak isi lemarimu, kamu berantakan, aku datang… semuanya lurus kembali, aku tahu kamu bukan seseorang yang peduli dimana benda itu akan kau simpan,,, tapi hargailah apa yang susah payah aku cari… okay?

tiga puluh satu, apa?

tiga puluh dua, tidak ada apa-apa…

tiga puluh tiga, hey… aku punya ide? Eh, aku atau kamu? Kita?

Kita buka sebuah catatan, kita rangkum kisah kita dalam bait tanpa alur… hanya kita yang mengerti…
bodoh… bodoh… siapa yang peduli… belum tentu ada yang peduli… hey, hey, apa benar mataku seindah itu? haha…

tiga puluh empat, lalu bagaimana akhirnya?

tiga puluh lima, lihat saja, memangnya kamu tidak pernah sekolah?

Lagu apa yang kau dengar itu? Lagu tentang siapa? Coba bagi liriknya padaku,,,
hey, bahasa apa ini?

tiga puluh enam, itu bahasa kita berdua…

dulu kamu bilang kamu suka makan bakpao, aku suka makan coklat, jeruk itu manis, tapi kamu bilang asam… kita pergi makan, dan kamu minta bagian ku setengahnya… kamu makan, aku minum… lalu kamu datang, dengan donat-donat yang tersenyum kecil… kita makan… kita minum… lalu?

tiga puluh tujuh, kamu mau bilang apa lagi?

tiga puluh delapan, haha… aku bahagia…

tiga puluh sembilan, masa?

empat puluh, eh, belum… belum pasti…

empat puluh satu, hey!

empat puluh dua, haha… apa kita bahagia?

empat puluh tiga, ………………………………………………………….. iya

Advertisements
Tagged , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: