Kemarin Itu Sudah Lewat

Tulisan ini awalnya dari ingat-ingat tentang waktu di meeting sama salah satu partner kerja, terus salah mikir kalau brand pantai nanas itu sama dengan coconut island. Entah kenapa bisa kepikiran gitu ya. Lucu, tapi bikin mikir…

Kadang aneh yah pikiran manusia, bisa mengkait-kaitkan yang sebenarnya ga berkaitan. Terus jadi masalah deh kalau kita bersikeras kalau itu memang ada kaitannya dan ga sadar-sadar. Terus jadi berdebat sama siapapun itu yang ga kepikiran kenapa kita bisa berpikir ke situ. Padahal sebenarnya ada atau nggak ada kaitannya itu sepenting apa sih? Kadang masalah yang bikin kita berantem itu sebenarnya kayak si pantai nanas dan coconut island itu ga sih? Masalah yang kita ada-adain di pikiran kita. Berantem yang mengada-ada.

Tapi ya itulah manusia ya, kadang lebih mentingin siapa yang benar dan salah daripada… yang lebih penting. Apa sih contohnya yang lebih penting itu? Yah, misalnya buat ketawa bareng karena kesalahpahaman itu. Ya ampun, coba ingat-ingat deh berapa banyak sih masalah yang dulu heboh banget pas kita alamin, eh sekarang kalau diingat-ingat lagi ternyata konyol banget karena ga jelas. Atau ga inget lagi sebenarnya kenapa.

Dari mikirin itu. Jadi kepikiran lagi kalau seminggu yang lalu sempat ada problem sama orang terdekat. Ga jelas masalahnya kalau dipikir-pikir lagi sekarang. Untungnya bisa kembali baikan dan saling coba ngertiin setelah itu lewat. Kalau nggak?

Nah, pernah kepikiran ga sih kalau salah satu kebutuhan dasar kita dalam berhubungan itu adalah “dimengerti”. Terus, sering banget kita marah karena merasa ga dingertiin. Merasa kalau ga dingertiin itu artinya ga disayang. Padahal yang nggak ngerti itu bukan org lain, tapi kita yang ga bisa ngertiin diri sendiri. Merasa orang lain sengaja nyakitin kita atau apalah, tapi emangnya gitu ya? Atau cuma dikait-kaitin aja?

Pertanyaannya lagi, rasa sebelnya itu buat apa sih? Buat nunjukkin kalo kita terluka? Kenapa mau nunjukkin kalo kita terluka? Supaya bisa diobatin, kan? Tapi minta diobatinnya dengan ngelukain orang itu lagi? Lalu yang dilukain mau minta diobatin juga akhirnya? Nah loh, kalau gitu sekarang yang punya obatnya siapa? Orang pertama, orang kedua, dua-duanya? Siapa yang ga ngertiin siapa kalau begini jadinya? Bolak balik terus aja sampe bumi jadi datar kalo ga ada yang mau stop.

Abis itu sok-sok-an deh buat ingat siapa yang mulai permasalahannya. Padahal ingatan manusia itu aneh pake banget. Suka inget hal yang buruk di saat yang baik. Lupa hal baik di saat yang buruk terjadi. Sedih saat kebahagiaan jelas-jelas minta diambil. Atau senang lama-lama mempersulit diri sendiri buat bahagia lagi. Ga mau lupain yang bikin sedih, ga mau ingat yang bikin hepi. Ga ingat kalau kita itu cuma manusia, begitu juga si dia. Lupa kalau sama-sama ga sempurna, makanya harus saling jaga.

Makanya hubungan jadi susah, percintaan, pertemanan, pekerjaan, keluarga, dan sama diri sendiri. Kita suka pertahanin ego, “Ini gua. Lu harus ngerti. Lu harus terima.” Hidup itu singkat, tapi kita rela habisin waktu buat  nunjukkin kalau kita benar, orang lain salah. Daripada buat sadar kalau, “ini kita. Bukan lu atau gua aja.”

Kenapa ya manusia suka sok pake banget. Sok ngerti. Sok bener. Sok paling tahu. Padahal ujung-ujungnya kita ga bakal ngerti semuanya kok. Diri sendiri, orang lain, dunia yang aneh ini. Tapi ga harus ngerti kok buat bisa ketawa bareng. Karena yah balik-balik lagi, kenapa ga ketawa bareng aja sih? Karena ujung-ujungnya, semua yang ada di kemarin itu sudah lewat, pilih-pilih lah yang perlu diingat dan dilupain.

Jadi, udah nentuin siapa yang mau stop duluan sebelum bumi jadi datar?

*Content ini sifatnya sok tahu jadi jangan marah kalau tidak pas
*Tidak merujuk kepada pihak siapapun saat ini, tetapi ke diri sendiri saja
*Hanya ingin berbagi pemikiran siapa tahu berguna

Tagged , , , , , , ,

The Look of It

Life’s a bit unfair, lately…

Or so do I thought.

It is a bit too much of everything.

The crossroads are through,

But not really though.

A little by a little, you started to lose yourself.

Devoured by the rhythm of mistakes,

You never knew would be so cruel.

You lost chances, and your loved ones hurt more.

Life’s a bit pristine, recently…

Or so do some thought.

How should we cope with the guilt of losing the things we lost,

That we don’t own?

As life’s a bit dragging,

You never knew it would be so cruel.

It throws you into regrets,

You blame yourself.

Until you can’t anymore.

But nothing you can feel more or less,

Life’s making you to love yourself less. And less it becomes…

As life’s a bit funny,

The love you get was so much,

Until you realized it,

It has changed a bit much.

Or that’s just the look of it?

 

 

Tagged , , , , , , , , , , , , ,

More Than a Shiver

It is the waiting that kills
Each second amuses the mind with
Playful scenario of how it would go
And stay, or leave…

Little by little, that happens.
That doesn’t. Build up a house of mockery.
Self disempowering, self neglecting.

Until the anger takes the stage.
It throws everything to protect
Its defense is offensive,
It knows only how to fight…
Coz anger was born from feeling not safe.
Realizing now one will come to rescue,
But oneself.

And the next are the tears.
They try to clean the warfield.
Wash the flame of anger,
Because they know…
It is wrong and right at the same time.
Who can judge. When you hurt when you’re hurt.

But acception is rarely ever the end
Denial is the loyal visitor
In the end,
All will turn to ego to go.
You know it happens,
It is more than a shiver.

Tagged , , , , , , , , , , ,

I Paperplane You

How can I don’t fly?
When you give me all good, better than all I can expect.
Treat me so well, though I act like hell.
Do me so much love, while I’m really hateable.

And you bring me to more than one heaven.
You told me that getting lost is fun,
I started to believe in that.

I have the things you don’t like,
you do the things I don’t like,
but why it doesn’t matter that much anymore.

When you are not around,
and I am doing nothing related to you,
The memories of us can knock my head,
like your ruffle on the top of my head,
and this sillyness, drags my lips to smile.

How can I explain this?
I don’t know for sure,
I am starting to enjoy this.

I’m grateful for this flight, I paperplane you…

Tagged , , , , , , , ,

Serigala Tanpa Ekor

Serigala yang lebih sadis,
hidup atau mati… Siapa yang rela?
Beda, dia tanpa ekor.
Tanpa cara memahami cinta
untuk sendirinya,

hanya melolong
di tengah-tengah,
antara bulan… bukit gelap,
dan gulita yang biru lebam.

Taringnya menangis,
merah penuh marah, kadang setengah iba.
Karena dia tanpa ekor. 
Setengahnya lagi, berkilau duka.

Lupakan senja,
Bulan yang setengah saja
tiba-tiba gerhana.
Bagai tutup mata, dan buka mulut. 
Merintih, merintih pada benci.
Pada sendiri.

Lukanya menyakiti,
Dari lahir tanpa ekor.
Tanpa cinta, sang serigala.
Hanya melolong,
menyapa kabut… merangkul pelukan abu-abu,
yang dicari, lewat gigi-gigi tajam.

Serigala tanpa ekor,
kapan ada yang menyayangi?

Tagged , , , , , , , ,
%d bloggers like this: